10 March 2005
Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya. “Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina?” Bukan Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan semudah ini. “Raja penakluk seperti Anda,” jawab Nasrudin, “Insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah.” [...]
Read the full article →
10 March 2005
Timur Lenk mulai mempercayai Nasrudin, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaannya. “Nasrudin,” katanya suatu hari, “Setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil ‘Alallah, Al-Mu’tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?” Cukup sulit, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tapi tak lama, [...]
Read the full article →