≡ Menu

Pernyataan Dirjen IAEA Memicu Reaksi AS dan Rezim Zionis

Pernyataan Dirjen Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Mohammad ElBaradei, soal tidak terbuktinya penyimpangan program nuklir Iran memicu reaksi AS dan Rezim Zionis Israel. ElBaradei dalam wawancaranya dengan Televisi CNN mengkritik langkah radikal AS dalam menyikapi isu nuklir Iran. Ia juga mengimbau Washington supaya tak mengganggu pelaksanaan kesepakatan dengan Iran.

Terkait hal ini, Wakil Rusia di PBB, Vitaly Churkin, kemarin kembali menyatakan dukungannya atas kerjasama Iran dan IAEA. Sementara itu, Juru Bicara Kemlu AS, Sean McCormack, ketika mereaksi pernyataan ElBaradei mengatakan, “ElBaradei dapat mengatakan apa yang diinginkan. Namun, hal ini merupakan tugas komunitas internasional soal nuklir Iran, bukan tugas ElBaredei.” Lebih dari itu, Juru Bicara Gedung Putih mengklaim, “Tak diragukan lagi, Iran berniat mencapai teknologi nuklir militer.” Dikatakannya pula, “Iran merupakan negara ancaman terbesar keamanan nasional AS.”

Menlu Rezim Zionis Israel, Tzipi Livni, dalam pidatonya di sebuah universitas Cina mengharapkan eskalasi tekanan yang lebih luas terhadap aktivitas nuklir Iran. Menteri Strategi Zionis Israel Avigdor Lieberman menuding ElBaradei sebagai pihak yang berupaya menutupi program nuklir Iran. Pada saat yang sama, Rezim Zionis Israel merupakan satu-satunya pihak yang tak bersedia menandatangani Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) dan menolak pengawasan Tim Inspeksi IAEA. Lebih dari itu, rezim ini mempunyai lebih dari 200 hulu ledak nuklir.

Dalam perkembangan lainnya, perundingan sesi kedua antara delegasi pakar IAEA dan Iran berlanjut hari ini di Teheran. Perundingan ini dimulai dari kemarin yang rencananya berlangsung hingga besok. Menurut Kantor Berita IRNA, delegasi Iran dalam perundingan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Urusan Keamanan Internasional, Javad Vaidi, sedangkan delegasi IAEA dipimpin oleh Wakil Dirjen IAEA, Olli Heinonen.

Perundingan ini digelar berdasarkan nota kesepakatan antara Teheran dan IAEA. Delegasi pakar Iran dan IAEA dalam perundingan ini membahas mesin sentrifugal P-1 dan P-2. Perundingan periode pertama digelar pada tanggal 23 dan 24 September, sedangkan perundingan periode kedua dilaksanakan di Teheran dari tanggal 20 hingga 24 Oktober. Terkait hal ini, kemarin, Heinonen mengatakan, “Dalam beberapa pekan mendatang, masalah nuklir Iran terselesaikan.”

Sumber: IRIB bahasa Indonesia.

Incoming search terms:

  • rezim keamanan internasional iaea
{ 0 comments… add one }

Leave a Comment