≡ Menu

Turki Tolak Permintaan Amerika Batalkan Kontrak Kerja Sama dengan Iran

Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, menolak permintaan Amerika untuk membatalkan transaksi energi dengan Iran. Erdogan malah membongkar sikap Washington yang berkali-kali memaksa Ankara membatalkan kontrak kerja sama dengan Iran, khususnya dalam bidang energi. Perdana Menteri Turki menyampaikan hal ini dalam Sidang Kesembilan Konsultasi dan Evaluasi Komite Pusat Partai Keadilan dan Pembangunan. Dalam sidang ini, ia menegaskan tekad Turki untuk tetap melanjutkan kerja samanya dengan Iran. Selain kerja sama gas yang telah ditandatangani kedua negara, pada minggu kemarin Iran dan Turki telah menandatangani kontrak kerja sama dalam bidang energi listrik. Pembangunan reaktor listrik tenaga air dan angin, peningkatan pengiriman listrik ke Turki dan pendirian perusahan gabungan konstruksi bendungan merupakan isi kontrak terakhir yang ditandatangani kedua negara Iran-Turki belum lama ini.

Republik Islam Iran dan Turki merupakan dua negara tetangga yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dua negara ini memiliki banyak kesamaan. Perbatasan kedua negara yang berjarak 529 kilometer merupakan satu-satunya perbatasan di Timur Tengah yang selama 400 tahun lalu sampai sekarang tidak pernah terjadi ketegangan apa lagi peperangan. Hubungan persaudaraan dua negara berasal dari hubungan ekonomi yang dalam, kepentingan bersama ekonomi, politik dan stabilitas keamanan kedua negara. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa faktor lain menyebabkan pengembangan hubungan persaudaraan antara Teheran dan Ankara bertambah baik. Faktor-faktor itu antara lain, politik anti ketegangan yang diterapkan Iran di Timur Tengah, tekad pemerintah Turki memperluas hubungannya dengan negara-negara tetangga dan ancaman bersama yang dirasakan kedua negara karena kehadiran penjajah Amerika di kawasan. Potensi dan akar hubungan persaudaraan Iran dan Turki demikian dalam dan punya hubungan kesejarahan sehingga sampai sekarang faktor-faktor regional dan trans regional tidak mampu merusak proses perluasan hubungan kedua negara ini.

Ini bukan pertama kalinya Amerika mencampuri urusan dalam negeri sebuah negara, bahkan secara arogan menentang keputusan sebuah negara melakukan kerja sama ekonomi secara bilateral atau multilateral dengan negara-negara lain. Sebelum ini, Amerika menentang kerja sama Iran-Pakistan-India di sektor gas. Urgensi kontrak kerja sama yang diteken oleh negara-negara lain dengan Iran dapat dicermati dari penolakan mereka atas permintaan Amerika memutuskan hubungan kerja sama itu. Bahkan, mereka malah mendukung dan memperkuat berlanjutnya kerja sama itu. Turki merupakan sebagian dari negara-negara yang telah menandatangani kontrak kerja sama sejak tahun 2001 dengan Iran. Berdasarkan isi kontrak itu, Turki akan mendapat suplai 10 miliar meter kubik gas dari Iran setiap tahunnya melalui pipa gas. Kontrak terakhir (Nabucco Project) yang ditandatangani di Iran pada tanggal 13 Juli tahun ini berisikan pengiriman 35 miliar meter kubik gas Iran dan Turkmenistan lewat Turki. Selain menguntungkan Turki karena dapat dimanfaatkan konsumsi dalam negeri, Turki mendapat keuntungan hak transit yang sekaligus dapat mengubah Turki sebagai terminal energi regional dan internasional.

Melihat keuntungan ekonomi dan politik yang bakal diraih, Turki tentu tidak akan melepaskan kesempatan ini dan tunduk pada permintaan Amerika. Di sisi lain, Uni Eropa secara serius mendukung kerja sama Turki dengan Iran dalam bidang energi. Disamping menolak campur tangan Amerika, Uni Eropa mengingatkan dampak buruk tindakan ini.

Sumber: IRIB bahasa Indonesia.

Incoming search terms:

  • negara iran sekarang
  • bendungan iran
  • pengaruh iran di timur tengah
  • negara turki sekarang
  • pengaruh turki di timur tengah
  • iran dan turki kerja sama
  • hubungan turki dan iran
  • sejarah negara turki
  • turki dan iran
  • potensi gas iran
{ 0 comments… add one }

Leave a Comment