≡ Menu

Demonstrasi Rakyat Palestina Menentang Konferensi Annapolis

Konferensi internasional Annapolis yang diadakan di kota Annapolis di negara bagian Maryland, Amerika, dihadiri lebih dari 40 negara dan PBB. Rencananya, konferensi itu akan membicarakan perdamaian Palestina-Israel. Namun, pada saat yang bersamaan, di Palestina sendiri ribuan orang Palestina melakukan unjuk rasa memprotes konferensi tersebut. Para pengamat politik dunia menilai konferensi ini merupakan dalih Bush untuk menutupi kesalahan dan kegagalannya selama ini. Dunia menatap Bush sebagai penengah yang tidak dapat dipercaya. Apa lagi ditambah lemahnya posisi kedua belah pihak yang bakal berunding seperti Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Ehud Olmert dan Pemimpin Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas.

Hal ini semakin terkuak saat merunut kembali bagaimana nasib perundingan-perundingan damai yang dilakukan di dekade 90an. Jelas, konferensi ini mustahil dapat menyelesaikan akar masalah yang telah tertanam sejak 60 tahun yang lalu di Palestina pendudukan. Bukankah sampai saat ini, masih banyak masalah yang belum diselesaikan lewat puluhan perjanjian yang telah dilakukan oleh Palestina dan Rezim Zionis Israel? Presiden Amerika, George W. Bush, memerlukan tameng untuk menutupi rasa malunya selama berpetualang di Afghanistan, Lebanon, Irak dan Palestina. Sebuah petualangan besar dan sarat dana, namun kesemuanya gagal. Dengan ini, sejatinya perundingan ini tidak untuk perdamaian Palestina-Israel, tapi Bush dan jajarannya melihat ini sebagai cara untuk meloloskan diri dari kebuntuan yang dialami selama ini. Amerika gagal mengeksekusi semua rencananya di Timur Tengah.

Menarik mencermati pemilihan kota Annapolis sebagai tempat konferensi yang disebut perdamaian ini. Pelaksanaan konferensi internasional di stasiun terbengkalai Annapolis di pusat kota Maryland telah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Maryland sebagai negara bagian yang tenang menjadi tempat Amerika dan Rezim Zionis Israel mengeruk konsesi sebanyak-banyaknya dari dunia Arab. Para pejabat rezim zionis menekan Mahmoud Abbas untuk mengakui Rezim Zionis Israel. Bila itu tidak dilakukan, Ehud Olmert mengancam perundingan ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Skenario ini sebenarnya hanya pengulangan dari perundingan Kamp David pada tahun 2000. Masih segar bagaimana Perdana Menteri Rezim Zionis Israel waktu itu, Ehud Barak, di Kamp David meminta Yasser Arafat agar melepaskan Baitul Maqdis. Saat ini, Ehud Olmert memaksa Mahmoud Abbas menandatangani kesepakatan agar ia mengakui Rezim Zionis Israel dan menutup mata dari hak legal para pengungsi Palestina kembali ke negaranya. Abbas dipaksa menandatangani perjanjian itu tanpa meminta persetujuan penduduk Palestina.

Itulah mengapa Perdana Menteri Palestina terpilih, Ismail Haniyah menyamakan konferensi musim gugur itu dengan guguran dedauan yang tidak bermanfaat. Sejak awal ia menyatakan, keputusan apa pun yang dihasilkan perundingan Annapolis tidak akan diterima selama menginjak-injak hak-hak bangsa Palestina. Hamas dalam pernyataannya juga menyebutkan, hak-hak bangsa Palestina tidak terbatas oleh waktu dan kembalinya para pengungsi Palestina dan kemerdekaan Palestina dengan ibu kota Baitul Maqdis merupakan hak asasi bangsa Palestina dan tidak dapat dirundingkan.

Sumber: IRIB bahasa Indonesia.

Incoming search terms:

  • konferensi annapolis
  • isi dari konfrensi annapolis 2007 adalah perdamaian palestina israel
  • isi konferensi anapolis
  • isi konferensi annapolis
  • Konferensi Annapolis 2007
  • negara negara bagian amerika yang menentang islam
{ 0 comments… add one }

Leave a Comment