≡ Menu

Eksploitasi Politik Tragedi 11 September

Meski peringatan ke-7 tahun terjadinya tragedi 11 September 2001 telah tiba, namun hingga kini perdebatan mengenai tragedi tersebut terus berlanjut. Pemerintah AS segera setelah tabrakan tiga pesawat dengan menara kembar WTC New York dan Pentagon di Washington, mengumumkan, bahwa pelaku aksi teror tersebut adalah anggota gerakan teroris AlQaeda.

Pada masa pemerintahan rezim Taleban di Afghanistan, negara ini merupakan markas utama kelompok AlQaeda pimpinan Osama bin Laden yang didukung oleh Taleban. Karena itu, pasca tragedi 11 September, AS menuding AlQaeda sebagai pelaku dan melancarkan invasi ke Afghanistan. Tentu saja, terdapat banyak analis politik yang meragukan kebenaran klaim Washington tersebut. Mereka bahkan mengajukan sejumlah bukti dan data yang menunjukkan adanya keterlibatan sejumlah agen mata-mata AS dalam tragedi 11 September, atau setidaknya telah mengetahui rencana aksi teror tersebut.

Terlepas dari adanya keraguan atas klaim pemerintah AS soal pelaku aksi teror 11 September 2001, yang jelas pemerintah AS di bawah pimpinan kubu neokonservatif telah mengeksploitasi dan memanfaatkan peristiwa ini secara berlebihan untuk kepentingan politik mereka.

Tragedi 11 September terbilang sebagai operasi teroris yang besar. Sekitar 3 ribu orang tewas dalam peristiwa ini Karena itu, seluruh negara-negara dunia mengecam serangan teroris tersebut dan mendesak digelarnya upaya pemberantasan teroris secara menyeluruh. Namun, pemerintahan Presiden Bush, bukannya memanfaatkan kesiapan negara-negara lain untuk memberantas teroris, tapi malah mengeksploitasi sikap simpati negara-negara dunia untuk kepentingan ambisi politik dan militer kubu Neokonservatif AS. Meski AS menyatakan bahwa aksi pemberantasan teroris yang digelarnya merupakan gerakan internasional, namun cara pemberantasan teroris yang diterapkan oleh Paman Sam sungguh brutal dan sangat unilateral. Dengan arogannya, AS melancarkan invasi ke negara lain sambil membantai warga sipil yang tak berdosa. Dengan kata lain, Gedung Putih membalas teror dengan teror, kekerasan dengan kekerasan, bahkan dengan semena-mena menjadikan warga sipil sebagai korban terbesar.

Sejak awal sudah jelas, bahwa mayoritas negara-negara dunia menentang metode irasional, diskriminatif, dan militeristik AS dalam memerangi teroris. Sebab, tujuan Washington untuk menggalang aliansi melawan teroris, sejatinya hanya untuk mengejar kepentingan haramnya, terutama untuk mengokohkan hegemoninya atas dunia lewat cara-cara imperialisme dan militeristik. Dengan demikian, kesempatan yang terbuka pasca tragedi 11 September untuk menumpas gerakan teroris hilang begitu saja lantaran ketamakan dan ambisi imperialisme AS.

Segera setelah diledakkannya menara kembar WTC New York, para penguasa pragmatis Washington segera menuding kelompok AlQaeda sebagai pelaku aksi peledakan tersebut. Kendati secara lahir kelompok ini mengklaim sebagai gerakan Islam namun sejatinya AlQaeda merupakan kelomopok radikal yang beraliran sesat yang tak ada kaitannya dengan Islam. Karena itu, aksi teroris yang dilancarkan oleh AlQaeda selalu mendapat penentangan luas dari umat Islam. Para ulama dan pemuka Islam pun menilai aksi-aksi kekerasan AlQaeda merupakan perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam yang menyuarakan perdamaian, welas asih dan rasionalitas.

Ironisnya, media-media massa Barat menganalisa dan menampilkan aski teroris AlQaeda sedemikian rupa sehingga mengesakan bahwa seluruh umat Islam adalah teroris. Sejak September 2001 sampai sekarang, Barat gencar melempar propaganda melawan Islam dan berusaha mengidentikkan agama ini dengan terorisme. Bahkan Presiden Bush menyebut perang melawan teroris sebagai Perang Salib. Dalam propagandanya itu, mereka menuding Islam sebagai agama kekerasan yang menciptakan teroris dan menyebut masyarakat muslim sebagai ancaman bagi dunia Barat. Namun serangan media massa Barat terhadap kalangan minoritas muslim di Eropa dan AS lebih gencar lagi. Media-media besar Barat yang berada di bawah bayang-bayang sikap pemerintah mereka, bahkan menuntut diterapkannya pembatasan yang ketat terhadap masyarakat muslim di Barat.

Sisi lain propaganda anti-Islam media-media massa Barat pasca tragedi 11 September adalah makin gencarnya aksi penistaan terhadap simbol-simbol sakral agama Islam. Mereka berusaha memperburuk wajah Islam di mata kalangan nonmuslim dengan cara menghina ajaran Islam dan menjadikannya sebagai lelucon. Untungnya, aksi kotor semacam itu justru memunculkan hasil yang sebaliknya bahkan justru kian meningkatkan ketertarikan publik Barat terhadap Islam. Propaganda anti-Islam media-media Barat ini bukan hanya gagal melemahkan keimanan masyarakat muslim terhadap agamanya, tapi malah memperkuat solidaritas umat Islam. Di mata dunia Islam, propaganda anti-Islam secam itu merupakan bukti permusuhan Barat, khususnya AS terhadap masyarakat muslim. Berdasarkan pelbagai hasil jajak pendapat beberapa tahun terakhir ini, tingkat kebencian masyarakat muslim di berbagai negara terhadap pemerintah AS kian meningkat.

Salah satu eksploitasi politik terbesar Gedung Putih terhadap tragedi 11 September, adalah meningkatnya kebijakan militeristik AS dan pendudukan dua negara muslim, Afghanistan dan Irak. Sekitar sebulan setelah meletusnya tragedi 11 September, dengan dalih untuk memerangi kelompok AlQaeda dan menangkap Osama bin Laden, pemimpin kelompok ini, AS melancarkan invasi ke Afghanistan. Ironisnya, perang yang dilancarkan oleh AS ini bukan hanya gagal menumpas gerakan teroris di Afghanistan, tapi justru membuat gerakan teroris di negara ini kian berkembang dan menyebar ke negara-negara lain seperti Irak. Akibatnya, warga sipil yang menjadi korban terbesar.

Tahun 2003, AS melancarkan aksi invasi lainnya ke Irak. Kali ini, AS mengusung alasan untuk memerangi senjata pemusnah massal rezim Saddam dan lantaran Saddam punya kaitan serta mendukung gerakan AlQeada. Ironisnya, tak ada satupun bukti valid yang diajukan oleh AS untuk membuktikan klaimnya itu.

Aksi eksploitasi politik AS lainnya dari tragedi 11 September adalah upaya Gedung Putih dalam mencoreng reputasi gerakan kebangkitan dan pembebasan di tingkat internasional. Dengan dalih memerangi gerakan teroris, AS menyebut gerakan perjuangan rakyat yang menentang penjajahan dan membela negaranya sebagai teroris. Sehingga gerakan anti penjajah yang berkembang di Palestina, Lebanon, dan Irak pun mereka anggap sebagai gerakan teroris. Dengan alasan semacam itulah, rezim Zionis Israel yang didukung oleh AS makin gencar menyerang rakyat sipil Palestina. Padahal menurut hukum internasional, berjuang membela tanah air dari serangan penjajah merupakan aksi yang legal.

Rakyat AS sendiri merupakan juga korban utama dari eksploitasi pemerintahan negaranya terhadap tragedi 11 September. Sejak munculnya peristiwa 11 September 2001, Pemerintah AS mensahkan sejumlah aturan dan undang-undang yang membatasi kebebasan sipil warga negaranya. Walapun tragedi 11 September telah berlalu 7 tahun lalu, namun pembatasan terhadap hak-hak sipil warga AS justru makin ketat bahkan dijadikan sebagai alat untuk menekan kelompok-kelompok antipemerintah.

Secara umum bisa disimpulkan bahwa eksploitasi politik pemerintah AS terhadap tragedi 11 September 2001, justru membuat dunia makin tidak aman dan menebar perang di mana-mana. Langkah semacam itu, di samping faktor-faktor lainnya seperti situasi politik, ekonomi dan sosial dunia, malah menyebabkan fenomena teroris di dunia kian berkembang luas dan ini merupakan bukti ketidakbecusan pemerintah AS dalam memimpin dunia melawan teroris.

Sumber: IRIB bahasa Indonesia.

Incoming search terms:

  • perang melawan terorisme pasca tragedi 11 september 2001
  • propaganda media massa AS di tragedi 11 september
  • propaganda tragedi 11 september 2001
  • tragedi 11 september
  • TRAGEDI 11 SEPTEMBER 2001
  • tragedi 15 september
{ 0 comments… add one }

Leave a Comment