<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Abatasya Islamic Website &#187; Kisah Sufi</title>
	<atom:link href="http://abatasya.net/category/kisah-sufi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abatasya.net</link>
	<description>dedicated to the Most Noble Messenger Muhammad and to the people of his household, the Ahlul Bayt, salutations and peace be upon them all</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 May 2010 05:09:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Burung Merak Raja Di Bawah Keranjang</title>
		<link>http://abatasya.net/2005/03/15/burung-merak-raja-di-bawah-keranjang/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2005/03/15/burung-merak-raja-di-bawah-keranjang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2005 06:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Seorang raja mempunyai sebuah taman, yang sepanjang empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau subur dan menyenangkan. Air mengalir berlimpah-limpah melaluinya, dan segala macam burung bernyanyi dari dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat kita bayangkan terdapat di dalam taman itu. Dan di antara semuanya itu ada sekelompok burung merak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Seorang raja mempunyai sebuah taman, yang sepanjang empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau subur dan menyenangkan. Air mengalir berlimpah-limpah melaluinya, dan segala macam burung bernyanyi dari dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat kita bayangkan terdapat di dalam taman itu. Dan di antara semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik.</p>
<p>Sekali waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak, dan memerintahkannya agar ia dimasukkan ke dalam kantung kulit supaya bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan cara apa pun. Dia juga memerintahkan agar burung merak itu ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang hanya mempunyai satu lubang, melalui lubang itu sedikit biji-bijian dapat dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.<br />
<span id="more-157"></span><br />
Lama waktu berlalu. Burung merak itu lupa pada dirinya sendiri, sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya. Ia melihat pada dirinya sendiri. Burung tersebut tidak melihat apa-apa kecuali kantung kulit yang kotor itu. Ia mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap dan jelek; ia percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu, sedemikian rupa sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal atau kesempurnaan di luar yang ia ketahui, maka ia menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong kosong besar dan kebodohan yang murni.</p>
<p>Sekalipun  demikian,  setiap kali angin segar berhembus, dan harumnya  bunga-bunga  dan  pepohonan,  violet  (<em>sejenis tumbuhan  yang  bunganya  berbau harum</em>), melati dan tumbuhan rempah-rempah sampai ke hidung burung itu, ia merasakan kesenangan yang mengejutkan melalui lubang itu. Timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Ia merasakan adanya hasrat untuk pergi dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari mana kerinduan itu berasal, sebab, kecuali kantung kulit itu, ia tidak mengetahui apa-apa; selain keranjang itu, tidak ada dunia lain; selain biji-bijian itu, tidak ada makanan lain. Ia telah melupakan semuanya. Ketika sekali-sekali ia mendengar suara burung-burung merak bernyanyi, dan burung-burung lain berlagu, kerinduan dan hasratnya timbul; tetapi ia tidak terbangunkan oleh suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin. Pernah ia bergairah memikirkan sarangnya.</p>
<p>Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku  dan  hampir mengucapkan  kata-kata,  &#8220;aku adalah kurir untukmu dari kekasihmu.&#8221;</p>
<p>Lama  sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang harum itu, dan  darimanakah  bunyi-bunyian  yang  indah  itu datang.</p>
<p><em>Wahai  kilat  yang  menyambar,  dari  perlindungan<br />
siapa engkau muncul?</em></p>
<p>Tetapi ia tidak sadar-sadar juga,  meskipun  sepanjang  masa itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.</p>
<p>Ah, kalau saja Laila sekali saja mengirimkan  salam karunianya,  meskipun  diantara kami  terbentang  debu  dan bebatuan besar.</p>
<p>Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya, atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu, burung sakit yang memekik di tengah keremangan kuburan.</p>
<p>Burung  merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya dan juga tanah airnya.</p>
<p><em>&#8230; janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti orang yang melupakan Allah, yang mengakibatkan Allah membuat mereka lupa diri pula</em>. (QS 59:19)</p>
<p>Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari taman, timbul hasrat dalam diri si burung merak tanpa mengetahui mengapa demikian.</p>
<p>Kedua baris ini adalah karya seorang penyair:</p>
<p><em>Kilat  Ma&#8217;arra  bergerak  di  tengah   malam,   ia melewati    malam    di   Rama   yang   melukiskan kebosanannya.</em></p>
<p><em>Ia benar-benar menyedihkan para penunggang, kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan pelana-pelana</em><br />
(catatan:  baris-baris  ini berasal dari Al-Ma&#8217;arri, Siqth al-Zand. hal. 51).</p>
<p>Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa menghadapnya.</p>
<p><em>Peristiwa  kebangkitan  itu  terjadi  hanya dengan satu kali tiupan sangkakala saja.</em> (QS 37:19)</p>
<p><em>Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu maha mengetahui keadaannya. (QS 100:9-11)</em></p>
<p>Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika memandang bulu-bulunya sendiri, dan melihat taman beserta aneka ragam bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk berjalan kesana-kemari dan terbang tinggi, serta semua suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (<em>ejakulasi teofanik &#8216;syath&#8217; yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj</em>).</p>
<p><em>Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam memenuhi kewajiban kepada Allah.</em> (QS 39.56)</p>
<p><em>Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas.</em> (QS 50:22)</p>
<p><em>Mengapa ketika nyawa sampai dikerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat orang yang sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu, namun kamu tidak melihat?</em> (QS 56:83-85)</p>
<p><em>Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu juga akibatnya.</em> (QS 102:3-4)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2005/03/15/burung-merak-raja-di-bawah-keranjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Burung Hoopoe dan Burung Hantu</title>
		<link>http://abatasya.net/2005/03/15/burung-hoopoe-dan-burung-hantu/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2005/03/15/burung-hoopoe-dan-burung-hantu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2005 06:22:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang mereka. Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat Arab, burung hoopoe termasyhur karena ketajaman matanya, sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta. Burung hoopoe melewatkan malam itu bersama burung-burung hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang mereka. Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat Arab, burung hoopoe termasyhur karena ketajaman matanya, sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta. Burung hoopoe melewatkan malam itu bersama burung-burung hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang segala macam hal. Pada waktu fajar, ketika burung hoopoe berkemas dan siap untuk pergi, burung-burung hantu itu berkata, &#8220;Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa yang akan kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini mengherankan,&#8221; kata  si  hoopoe, &#8220;Semua  pekerjaan berlangsung pada siang hari.&#8221;<br />
<span id="more-155"></span><br />
&#8220;Apakah kamu gila?&#8221; burung-burung hantu itu bertanya. &#8220;Pada siang hari, dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru sebaliknya,&#8221; kata si hoopoe, &#8220;Semua cahaya di dunia ini tergantung pada cahaya matahari, dan darinyalah segala sesuatu yang bersinar itu mendapatkan cahayanya. Sesungguhnya ia dinamakan &#8216;mata dari hari,&#8217; sebab ia merupakan sumber cahaya.&#8221;</p>
<p>Tetapi burung-burung hantu itu mengira dapat mengalahkan logika si hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun dapat melihat pada siang hari.</p>
<p>&#8220;Janganlah beranggapan bahwa lewat analogi dengan diri kalian sendiri setiap orang itu seperti kalian. Semua yang lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku dapat melihat, aku berada di dunia yang dapat dilihat, dapat diamati. Ketidakjelasan itu telah hilang, dan aku dapat mengenali permukaan yang cemerlang dengan jalan menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.&#8221;</p>
<p>Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi ribut menjerit-jerit dan, sambil bertengkar satu sama lainnya, mereka berkata, &#8220;Burung ini berbicara tentang kemampuan melihat pada siang hari, ketika kita terserang kebutaan.&#8221; Dengan segera mereka menyerang si hoopoe dan melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya dengan memanggilnya &#8216;si melek-siang-hari;&#8217; sebab kebutaan pada siang hari merupakan kewajaran di kalangan mereka.</p>
<p>&#8220;Jika kamu tidak menarik kembali perkataanmu,&#8221; mereka berkata, &#8220;kamu akan dibunuh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika aku tidak membuat diriku buta,&#8221; pikir si hoopoe, &#8220;mereka akan membunuhku. Karena mereka merasakan kesakitan terutama pada mata mereka, kebutaan dan kematian akan terjadi secara serentak.&#8221;</p>
<p>Dan kemudian, diilhami oleh pepatah, <em>Berbicaralah  dengan  orang-orang  sesuai  dengan tingkat kecerdasan mereka</em>, dia menutup matanya dan berkata, &#8220;Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.&#8221;</p>
<p>Melihat memang demikianlah halnya, mereka berhenti memukul dan melukai si burung hoopoe, yang menyadari bahwa mengungkap rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak percaya sama saja dengan menyebarkan rahasia kekafiran mereka. Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara susah payah dia bertahan dengan berpura-pura buta dan berkata:</p>
<p>Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana ini.</p>
<p>Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah mengunci] bibirku dengan seribu paku.</p>
<p>Dia mengeluh dalam-dalam dan berkata, &#8220;Dalam diriku ada banyak pengetahuan; jika aku melepaskannya, aku akan terbunuh.&#8221;</p>
<p>Jika selubung itu  diangkat, aku tidak akan menjadi lebih yakin  (<em>catatan: perkataan  ini diyakini berasal dari &#8216;Ali ibn Abi Thalib</em>).</p>
<p><em>Agar mereka menyembah Allah yang mengungkapkan segala yang terpendam di langit dan di bumi serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan dinyatakan.</em> (QS 27:25)</p>
<p><em>Jelaslah, tidak sesuatu pun yang tidak dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak mengaruniakan semua kebutuhan itu, kecuali dengan kadar yang serba tertentu.</em> (QS 15:21 )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2005/03/15/burung-hoopoe-dan-burung-hantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bunglon Dan Kelelawar</title>
		<link>http://abatasya.net/2005/03/15/bunglon-dan-kelelawar/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2005/03/15/bunglon-dan-kelelawar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2005 06:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sufi]]></category>
		<category><![CDATA[Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk lingkaran langit, dan matahari telah turun dihadapan bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka akan bersama-sama menyerang si bunglon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk lingkaran langit, dan matahari telah turun dihadapan bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan melampiaskan dendam. Ketika saat yang dinantikan tiba, mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.<br />
<span id="more-153"></span><br />
Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Akhirnya mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak mengharapkan yang lebih baik lagi. &#8216;Penghukuman&#8217; semacam itu persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan oleh Husayn Manshur,</p>
<p>Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada dalam  kematianku, dan kematianku ada dalam hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat dalam Al-Hallaj, 14.1)</p>
<p>Maka ketika matahari terbit, mereka membawanya keluar dari rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh cahaya matahari, siksaan yang sesungguhnya merupakan jalan keselamatan baginya.</p>
<p><em>Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak! Bahkan mereka hidup. Mereka  mendapat rizki dan Tuhannya.</em> (QS 3:169)</p>
<p>Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani berkata, &#8220;Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka pasti akan mati karena kecewa.&#8221; (dikutip dalam bahasa Persia &#8216;Aththar, Tadzkirah, hal. 282)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2005/03/15/bunglon-dan-kelelawar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti Penambang Emas</title>
		<link>http://abatasya.net/2005/03/15/seperti-penambang-emas/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2005/03/15/seperti-penambang-emas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2005 06:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bawa Muhayyaddin]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Apabila seorang penambang mencari emas, dia harus mengayak tanah untuk menyaring logam yang berharga itu. Dia memungut yang berharga dan membuang sisanya. Demikian pula, di mana pun Anda mencari, apakah itu di timur, barat, utara, atau selatan, apakah itu umat Hindu, Zoroaster, Kristen, Yahudi, atau Islam, Anda harus mencari dan memungut hanya suatu yang bernilai, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Apabila seorang penambang mencari emas, dia harus mengayak tanah untuk menyaring logam yang berharga itu. Dia memungut yang berharga dan membuang sisanya. Demikian pula, di mana pun Anda mencari, apakah itu di timur, barat, utara, atau selatan, apakah itu umat Hindu, Zoroaster, Kristen, Yahudi, atau Islam, Anda harus mencari dan memungut hanya suatu yang bernilai, yaitu emas, khazanah Tuhan, yaitu kebenaran.</p>
<p>Selama Anda mencari melalui semua kitab suci, Anda harus menyisihkan apa pun yang lainnya, seperti penambang emas membuang kotoran dan batu-batu. Hanya kekayaan Tuhan yang Anda butuhkan untuk kehidupan Anda dan untuk kecerahan jiwa Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2005/03/15/seperti-penambang-emas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti Semuanya Salah</title>
		<link>http://abatasya.net/2005/03/15/seperti-semuanya-salah/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2005/03/15/seperti-semuanya-salah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2005 06:19:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bawa Muhayyaddin]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Sekali waktu Anda pernah mengira bahwa segala yang Anda pelajari dan cermati adalah kebenaran. Tetapi kemudian Anda maju ke langkah berikutnya, dan menemukan bahwa semua yang telah Anda pelajari bukanlah kebenaran. Dan pada masa yang akan datang ketika Anda masih melangkah lebih berikutnya dan memandang kembali semua yang sekarang Anda anggap benar, ternyata Anda juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Sekali waktu Anda pernah mengira bahwa segala yang Anda pelajari dan cermati adalah kebenaran. Tetapi kemudian Anda maju ke langkah berikutnya, dan menemukan bahwa semua yang telah Anda pelajari bukanlah kebenaran. Dan pada masa yang akan datang ketika Anda masih melangkah lebih berikutnya dan memandang kembali semua yang sekarang Anda anggap benar, ternyata Anda juga akan melihatnya sebagai kepalsuan. Dengan cara ini, setiap kali Anda melangkah maju ke level yang baru, maka Anda akan menemukan bahwa semua yang Anda pelajari pada masa lalu adalah kepalsuan (salah). Akhirnya, ketika Anda mencapai maqam (keadaan) Tuhan dan maqam kearifan-Nya, maka Anda akan menyadari bahwa semua pemikiran Anda adalah keliru. Semuanya keliru. Hanya Dialah kebenaran. Kebijakan-Nya adalah kebenaran sejati, dan sifat-sifat-Nya adalah emas kekayaan yang sesungguhnya.</p>
<p>Apabila Anda memahami hal ini, maka Anda akan memohon ampunan-Nya atas segala kesalahan yang Anda lakukan pada masa yang lalu. Anda akan melihat dengan jelas dan pasti bahwa hanya ada satu keluarga, satu doa dan satu Tuhan. Kita harus memikirkan hal ini. Ini adalah kearifan yang berharga, hikmah kebenaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2005/03/15/seperti-semuanya-salah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
