<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Abatasya Islamic Website &#187; Tokoh</title>
	<atom:link href="http://abatasya.net/category/tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abatasya.net</link>
	<description>dedicated to the Most Noble Messenger Muhammad and to the people of his household, the Ahlul Bayt, salutations and peace be upon them all</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 May 2010 05:09:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Ismail Raji Al-Faruqi</title>
		<link>http://abatasya.net/2008/03/08/ismail-raji-al-faruqi/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2008/03/08/ismail-raji-al-faruqi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 01:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Nama besarnya telah membelah perhatian dunia intelektualisme universal. Konsep dan teorinya tentang penggabungan ilmu pengetahuan telah mengilhami berdirinya berbagai megaproyek keilmuan, semisal International Institute of Islamic Thougth (IIIT) di Amerika Serikat dan lembaga sejenis di Malaysia. Berkat dia pula agenda besar &#8216;Islamisasi ilmu pengetahuan&#8217; hingga kini tumbuh dan berkembang di berbagai negara, meski untuk itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Nama besarnya telah membelah perhatian dunia intelektualisme universal. Konsep dan teorinya tentang penggabungan ilmu pengetahuan telah mengilhami berdirinya berbagai megaproyek keilmuan, semisal International Institute of Islamic Thougth (IIIT) di Amerika Serikat dan lembaga sejenis di Malaysia.</p>
<p>Berkat dia pula agenda besar &#8216;Islamisasi ilmu pengetahuan&#8217; hingga kini tumbuh dan berkembang di berbagai negara, meski untuk itu harus menuai badai kritik dan kecaman. Proyek Pan-Islamisme Jamaluddin Al Afghani pun dilanjutkannya, walau hasilnya tak optimal.</p>
<p><span id="more-32"></span></p>
<p>Itulah antara lain kiprah Ismail Raji Al Faruqi. Sosok cerdik yang sangat dihormati dan disegani berbagai kalangan intelektual dan ilmuwan, Islam dan Barat, ini dilahirkan di daerah Jaffa, Palestina, pada 1 Januari 1921. Saat itu, negerinya memang tak separah dan setragis sekarang, yang menjadi sasaran senjata canggih pemerintahan zionis, Israel. Palestina masih begitu harmonis dalam pelukan kekuasaan Arab, ketika Faruqi dilahirkan.</p>
<p>Al Faruqi melalui pendidikan dasarnya di College des Freres, Lebanon sejak 1926 hingga 1936. Pendidikan tinggi ia tempuh di The American University, di Beirut. Gelar sarjana muda pun ia gapai pada 1941. Lulus sarjana, ia kembali ke tanah kelahirannya menjadi pegawai di pemerintahan Palestina, di bawah mandat Inggris selama empat tahun, sebelum akhirnya diangkat menjadi gubernur Galilea yang terakhir. Namun pada 1947 provinsi yang dipimpinnya jatuh ke tangan Israel, hingga ia pun hijrah ke Amerika Serikat.</p>
<p>Di negeri Paman Sam itu garis hidupnya berubah. Dia dengan tekun menggeluti dunia akademis. Di negeri ini pula, gelar masternya di bidang filsafat ia raih dari Universitas Indiana, AS, pada 1949, dan gelar master keduanya dari Universitas Harvard, dengan judul tesis On Justifying The God: Metaphysic and Epistemology of Value (Tentang Pembenaran Kebaikan: Metafisika dan Epistemologi Ilmu). Sementara gelar doktornya diraih dari Universitas Indiana. Tak hanya itu, Al Faruqi juga memperdalam ilmu agama di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir selama empat tahun.</p>
<p>Usai studi Islam di Kairo, Al Faruqi mulai berkiprah di dunia kampus dengan mengajar di Universitas McGill, Montreal, Kanada pada 1959 selama dua tahun. Pada 1962 Al Faruqi pindah ke Karachi, Pakistan, karena terlibat kegiatan Central Institute for Islamic Research.</p>
<p>Setahun kemudian, pada 1963, Al Faruqi kembali ke AS dan memberikan kuliah di Fakultas Agama Universitas Chicago, dan selanjutnya pindah ke program pengkajian Islam di Universitas Syracuse, New York. Pada tahun 1968, ia pindah ke Universitas Temple, Philadelphia, sebagai guru besar dan mendirikan Pusat Pengkajian Islam di institusi tersebut.</p>
<p>Selain itu, ia juga menjadi guru besar tamu di berbagai negara, seperti di Universitas Mindanao City, Filipina, dan di Universitas Qom, Iran. Ia pula perancang utama kurikulum The American Islamic College Chicago. Al Faruqi mengabdikan ilmunya di kampus hingga akhir hayatnya, pada 27 Mei 1986, di Philadelphia.</p>
<p><strong>Pemikiran</strong><br />
Ilmuwan yang ikut membidani berbagai kajian tentang Islam di berbagai negara &#8211;Pakistan, India, Afrika Selatan, Malaysia, Mesir, Libya, dan Arab Saudi&#8211; ini sangat terkenal dengan konsep integrasi antara ilmu pengetahuan (umum) dan agama. Dalam keyakinan agamanya, ia tidak melihat bahwa Islam mengenal dikotomi ilmu. Karena, katanya, ilmu dalam Islam asalnya dan bersumber pada nash-nash dasarnya, yakni Alquran dan Hadis.</p>
<p>&#8220;Bukan seperti sekarang, saat dunia Barat maju dalam bidang ilmu pengetahuan, namun kemajuan itu kering dari ruh spiritualitas. Itu tak lain karena adanya pemisahan dan dikotomi antara ilmu pengetahuan dan agama,&#8221; kilahnya.</p>
<p>Gagasan-gagasan cerah dan teorinya untuk memperjuangkan proyek integrasi ilmu, yang ia kemas dalam bingkai besar &#8216;Islamisasi ilmu pengetahuan&#8217;, itu dituangkan dalam banyak tulisan, baik di majalah, media lainnya, dan juga buku. Lebih dari 20 buku, dalam berbagai bahasa, telah ditulisnya, dan tak kurang dari seratus artikel telah dipublikasikan. Di antara karyanya yang terpenting adalah: A Historical Atlas of the Religion of The World (Atlas Historis Agama Dunia), Trialogue of Abrahamic Faiths (Trilogi Agama-agama Abrahamis), The Cultural Atlas of Islam (Atlas Budaya Islam), Islam and Cultural (keduanya telah di Indonesiakan).</p>
<p>Gagasan &#8216;Islamisasi ilmu pengetahuan&#8217; tak hanya ia perjuangkan dalam bentuk buku, namun juga dalam institusi pengkajian Islam dengan mendirikan IIIT pada 1980, di Amerika Serikat. Kini, lembaga bergengsi dan berkualitas itu memiliki banyak cabang di berbagai negara, termasuk di Indonesia dan Malaysia. Namun pemikirannya juga menimbulkan pro-kontra di kalangan ilmuwan Muslim dan Barat.</p>
<p>Hal demikian tak membuatnya larut dalam kritikan. Suara-suara sumbang itu malah ia kelola sedemikian rupa sehingga berpotensi menjadi stimulasi pengembangan pemikirannya tersebut. Tak cukup dengan IIIT saja, ia dirikan pula The Association of Muslim Social Scientist pada 1972. Kedua lembaga internasional yang didirikannya itu menerbitkan jurnal Amerika tentang Ilmu-ilmu Sosial Islam.</p>
<p>Berbagai kegiatan ini ia lakukan semata didorong oleh pandangannya bahwa ilmu pengetahuan dewasa ini benar-benar telah sekuler dan karenanya jauh dari tauhid. Maka, dirintislah teori dan &#8216;resep&#8217; pengobatan agar kemajuan dan pengetahuan tidak berjalan kebablasan di luar jalur etik, lewat konsep Islamisasi ilmu dan paradigma tauhid dalam pendidikan dan pengetahuan.</p>
<p>Pemikirannya tentang Pan-Islamisme (Persatuan Negara-negara Islam) pun tak kalah penting. Seakan tak merasa risih dan pesimis, pemikiran Pan-Islamismenya terus didengungkannya di tengah berkembangnya negara-negara nasional di dunia Islam dewasa ini. Al Faruqi tak sependapat dengan berkembangnya nasionalisme yang membuat umat Islam terpecah-pecah.</p>
<p>Baginya, sistem khilafah (kekhalifahan Islam) adalah bentuk negara Islam yang paling sempurna. &#8220;Khilafah adalah prasyarat mutlak bagi tegaknya paradigma Islam di muka bumi. Khilafah merupakan induk dari lembaga-lembaga lain dalam masyarakat. Tanpa itu, lembaga-lembaga lain akan kehilangan dasar pijaknya,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Dengan terbentuknya khilafah, jelasnya, keragaman tidak berarti akan lenyap. Dalam pandangannya, khilafah tetap bertanggung jawab melindungi keragaman. Bahkan, khilafah wajib melindungi pemeluk agama lain, seperti Kristen, Yahudi dan lain sebagainya. &#8220;Tak ada paksaan dalam Islam,&#8221; katanya. Menurutnya, negara-negara Islam yang ada saat ini akan menjadi provinsi-provinsi federal dari sebuah khilafah yang bersifat universal yang harus senantiasa diperjuangkan.</p>
<p>Dalam bidang perbandingan agama, kontribusi pemikiran Al Faruqi tak kecil. Karyanya A Historical Atlas of Religion of the World, oleh banyak kalangan dipandang sebagai buku standar dalam bidang tersebut. Dalam karya-karyanya itulah, ia selalu memaparkan pemikiran ilmiahnya untuk mencapai saling pengertian antarumat beragama, dan pemahaman intelektual terhadap agama-agama lain. Baginya, ilmu perbandingan agama berguna untuk membersihkan semua bentuk prasangka dan salah pengertian untuk membangun persahabatan antara sesama manusia.</p>
<p>Karena itu pula, Al Faruqi berpendapat bahwa Islam tidak menentang Yahudi. Yang ditentang Islam adalah Zionisme. Antara keduanya (Yahudi dan Zionisme) terdapat perbedaan mendasar. Ketidakadilan dan kezaliman yang dilakukan Zionisme, menurutnya, begitu rumit, majemuk, dan amat krusial, sehingga praktis tidak terdapat cara untuk menghentikannya tanpa suatu kekerasan perang. Dalam hal ini, negara zionis harus dihancurkan. Sebagai jalan keluarnya, orang-orang Yahudi diberi hak bermukim di mana saja mereka kehendaki, sebagai warga negara bebas. Mereka harus diterima dengan baik di negara Muslim.</p>
<p>Lantaran pemikirannya inilah, kalangan Yahudi tidak senang dengannya. Nasib tragis pun menimpa diri dan keluarganya, ketika meletus serangan teroris di Eropa Barat, yang lalu merembet pada kerusuhan di AS pada 1986. Gerakan anti-Arab serta semua yang berbau Arab dan Islam begitu marak dipelopori beberapa kalangan tertentu yang lama memendam perasaan tak senang terhadap Islam dan warga Arab. Dalam serangan oleh kelompok tak dikenal itulah, Al Faruqi dan istrinya, Dr Lois Lamya, serta keluarganya tewas. Untuk mengenang jasa-jasa, usaha, dan karyanya, organisasi masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) mengabadikan dengan mendirikan The Ismail and Lamya Al Faruqi Memorial Fund, yang bermaksud melanjutkan cita-cita &#8216;Islamisasi ilmu pengetahuan&#8217;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2008/03/08/ismail-raji-al-faruqi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muhammad Husayn Thabathaba&#8217;i</title>
		<link>http://abatasya.net/2005/03/08/muhammad-husayn-thabathabai/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2005/03/08/muhammad-husayn-thabathabai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2005 01:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Darakah, sebuah desa kecil di sisi pegunungan dekat Teheran, di tempat inilah Allamah Thabathaba&#8217;i menghabiskan bulan-bulan musim panas, menyingkir dari panas Kota Qum, kediamannya. Di desa inilah Profesor Kenneth Morgan, seorang orientalis terkemuka berkunjung untuk memintanya menulis mengenai pandangan-pandangan Islam Syi&#8217;ah untuk masyarakat intelektual Barat. Dengan kemampuannya yang mumpuni dan penguasaannya pada ilmu-ilmu Islam tradisional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Darakah, sebuah desa kecil di sisi pegunungan dekat Teheran, di tempat inilah Allamah Thabathaba&#8217;i menghabiskan bulan-bulan musim panas, menyingkir dari panas Kota Qum, kediamannya. Di desa inilah Profesor Kenneth Morgan, seorang orientalis terkemuka berkunjung untuk memintanya menulis mengenai pandangan-pandangan Islam Syi&#8217;ah untuk masyarakat intelektual Barat. Dengan kemampuannya yang mumpuni dan penguasaannya pada ilmu-ilmu Islam tradisional serta pengenalannya terhadap pemikiran Barat menjadikan Allamah Thabathaba&#8217;i memang orang yang tepat untuk menulis hal tersebut.</p>
<p>Di dalam dirinya terdapat kerendahhatian dan kemampuan analisis intelektualnya bergabung. Dalam kelompok ulama tradisional Allamah Thabathaba&#8217;i memiliki kelebihan sebagai seorang Syaikh dalam bidang Syariat dan ilmu-ilmu esoteris, sekaligus seorang hakim (filosof atau, tepatnya, teosof Islam tradisonal) terkemuka. Allamah Thabathaba&#8217;i telah membaktikan segenap hidupnya untuk mengkaji agama. Sebuah dedikasi tinggi terhadap perkembangan ilmu-ilmu Islam dan ilmu pengetahuan pada umumnya.</p>
<p><span id="more-47"></span></p>
<p>Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba&#8217;i dilahirkan di Tabriz pada tahun 1321 H /1903 M, dari suatu keluarga keturunan Nabi Muhammad yang selama empatbelas generasi telah menghasilkan ulama-ulama Islam terkemuka. Ia memperoleh pendidikan di kota kediamannya, menguasai unsur-unsur bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama, dan ketika usia duapuluh tahun berangkat ke Universitas Najaf untuk melanjutkan pelajarannya. Disana ia mempelajari Syariat dan ushul al-fiqh dari dua diantara syaikh-syaikh terkemuka masa itu yaitu Mirza Muhammad Husain Na&#8217;ini dan Syaikh Muhammad Husain Isfahani.</p>
<p>Namun menjadi Mujtahid bukan tujuannya. Thabathaba&#8217;i lebih tertarik pada ilmu-ilmu aqliah, dan mempelajari dengan tekun seluruh dasar matematika tradisional dari Sayyid Abul Qasim Khwansari, dan filsafat Islam tradisional, termasuk naskah baku asy-Syifa karya Ibnu Sina dan al-Asfar karya Sadr al-Din Syirazi serta Tamhid al-Qawa&#8217;id karya Ibnu Turkah dari Sayyid Husain Badkuba&#8217;i.</p>
<p>Thabathaba&#8217;i juga mempelajari &#8216;ilm Hudhuri (ilmu-ilmu yang dipelajari langsung dari Allah SWT), atau ma&#8217;rifat, yang melaluinya pengetahuan menjelma menjadi penampakan hakekat-hakekat supranatural. Gurunya, Mirza Ali Qadhi, yang mulai membimbingnya ke arah rahasia-rahasia Ilahi dan menuntunnya dalam perjalananan menuju kesempurnaan spritual. Sebelum berjumpa dengan Syaikh ini, Thabathaba&#8217;i mengira telah benar-benar mengerti buku <em>Fushulli al-Hikam</em> karya Ibn Arabi. Namun ketika bertemu dengan Syaikh besar ini, ia baru sadar bahwa sebenarnya ia belum tahu apa-apa. Berkat sang Syaikh ini, tahun-tahun di Najaf tak hanya menjadi kurun pencapaian intelektual, melainkan juga kezuhudan dan praktek-praktek spritual yang memampukannya untuk mencapai keadaan realisasi spritual.</p>
<p>Pada 1934 Allamah Thabathaba&#8217;i kembali ke Tabriz dan menghabiskan beberapa tahun yang sunyi di kota itu, mengajar sejumlah kecil murid. Kejadian-kejadian pada Perang Dunia Kedua dan pendudukan Rusia atas Persialah yang membawa Allamah Thabathaba&#8217;i dari Tabriz ke Qum (1945). Pada waktu itu, dan seterusnya sampai sekarang, Qum merupakan pusat pengkajian keagamaan di Persia. Ia mengajar tafsir Qur&#8217;an serta filsafat dan teosofi tradisional, yang selama bertahun-tahun sebelumnya tidak diajarkan di Qum.</p>
<p>Dengan demikian Allamah Thabathaba&#8217;i telah memberikan pengaruh yang amat besar, baik di dalam basis tradisional maupun modern. Dia telah mencoba untuk menciptakan suatu elite intelektual baru di kalangan kelompok masyarakat berpendidikan modern yang ingin menjadi akrab dengan intelektualitas Islam di samping dengan dunia modern. Banyak murid tradisionalnya yang termasuk kelompok ulama telah mencoba untuk mengikuti teladannya dalam upayanya yang amat penting ini. Beberapa muridnya seperti Sayyid Jalal al-Din Asytiyani dari Universitas Masyhad dan Murtadha Muthahhari dari universitas Teheran juga dikenal sebagai sarjana yang mempunyai reputasi istimewa.</p>
<p>Dia adalah pribadi yang agung, yang telah mencurahkan segenap hidupnya untuk didekasikan kepada kebenaran. Kecintaannya pada ilmu telah mengejawantah dalam pribadi agung ini. Dia telah menjadi lambang dari suatu tradisi panjang kesarjanaan dan ilmu-ilmu tradisional Islam. Kehadirannya meniupkan suatu aroma dari pribadi yang telah mendapatkan buah Pengetahuan Ketuhanan. Ia mencontohkan dalam kepribadiannya, kemuliaan, kerendahhatian dan kecintaannya pada kebenaran, yang selama berabad-abad telah terdapat dalam pribadi-pribadi Muslim sejati.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>Kajian keadilan Ilahi Muhammad Husayn Thabathaba I</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took -0.177 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2005/03/08/muhammad-husayn-thabathabai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muhammad Baqir ash-Shadr</title>
		<link>http://abatasya.net/2005/03/08/muhammad-baqir-ash-shadr/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2005/03/08/muhammad-baqir-ash-shadr/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2005 01:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Wacana ilmiah yang berkembang di dunia Islam sekarang ini telah semakin mengedepan dalam menjawab tantangan masyarakat ilmiah barat. Pada masa sebelum abad dua puluh untuk menjawab tantangan para pemikir Barat, para intelektual Islam lebih banyak berapologi. Hal ini terjadi karena tertutupnya pintu ijtihad dan tengelamnya kajian-kajian filsafat khususnya di dunia Islam Sunni, serta kurang terinformasinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Wacana ilmiah yang berkembang di dunia Islam sekarang ini telah semakin mengedepan dalam menjawab tantangan masyarakat ilmiah barat. Pada masa sebelum abad dua puluh untuk menjawab tantangan para pemikir Barat, para intelektual Islam lebih banyak berapologi. Hal ini terjadi karena tertutupnya pintu ijtihad dan tengelamnya kajian-kajian filsafat khususnya di dunia Islam Sunni, serta kurang terinformasinya karya-karya pemikir barat di kalangan pemikir Islam.</p>
<p>Muhammad Baqir Ash-Shadr adalah sedikit dari tokoh-tokoh Islam yang mampu berbicara dengan fasihnya pemikiran-pemikiran Barat. Kesan apologi yang selama ini melekat pada pemikir Islam, ia tepis dengan kejernihan dan kecerdasan pemikirannya. Ia begitu akrab dengan karya-karya pemikir Islam klasik maupun modern, tapi ia juga paham pemikiran-pemikiran Barat yang berkembang. Dalam karyanya yang terkenal yaitu <em>Falsatuna</em> dan <em>Iqtishaduna</em> ia dengan fasihnya mengutarakan kritik-kritik terhadap pemikiran Barat seperti Karl Marx, Descartes, John Locke dan lain-lain.</p>
<p><span id="more-44"></span></p>
<p>Falsafatuna dan Iqtishaduna telah mencuatkan Mehammad Baqir Shadr sebagai teoritisi kebangkitan Islam terkemuka. Sistem filsafat dan ekonomi alternatif ini disempurnakan melalui masyarakat dan lembaga. Dalam Falsafatuna dan Iqtishaduna, Baqir Shadr ingin menyajikan kritik yang serius terhadap aliran marxisme dan kapitalisme. Buku ini baik dari segi sturuktur maupun metodologi, tak diragukan lagi inilah sumbangsih paling serius dan paling banyak disaluti di bidang ini.</p>
<p>Muhammad Baqir As-Sayyid Haidar Ibn Ismail Ash-Shadr, seorang sarjana, ulama, guru dan tokoh politik, lahir di Kazimain, Baghdad, Irak pada 25 DzulQaidah 1353H/1 Maret 1935 M dari keluarga religius. Pada usia empat tahun, Muhammad Baqir Ash-Shadr kehilangan ayahnya, dan kemudian diasuh oleh ibunya yang religius dan kakak laki-lakinya, Ismail, yang juga seorang mujtahid kenamaan di Irak. Muhammad Baqir Ash-Shadr menunjukkan tanda-tanda kejeniusan sejak usia kanak-kanak. Pada usia sepuluh tahun, dia berceramah tentang sejarah Islam, dan juga tentang beberapa aspek lain tentang kultur Islam. Dia mampu menangkap isu-isu teologis yang sulit dan bahkan tanpa bantuan seorang guru pun. Ketika usia sebelas tahun, dia mengambil studi logika, dan menulis sebuah buku yang mengkritik para filosof.</p>
<p>Pada usia tiga belas tahun, kakaknya mengajarkan kepadanya &#8216;Ushul &#8216;ilm al-fiqh (asas-asas ilmu tentang prinsip-prinsip hukum Islam yang terdiri atas Al-Qur&#8217;an, Hadis, Ijma&#8217; dan Qiyas). Pada usia sekitar enam belas tahun, dia pergi ke Najaf untuk menuntut pendidikan yang lebih baik dalam berbagai cabang ilmu-ilmu Islami. Sekitar empat tahun kemudian, dia menulis sebuah ensiklopedi tentang &#8216;Ushul, Ghayat Al-Fikr fi Al-&#8217;Ushul (pemikiran puncak dalam &#8216;Ushul). Muhammad Baqir Ash-Shadr menjadi seorang mujtahid pada usia tiga puluh tahun.</p>
<p>Sebagai salah seorang pemikir yang paling terkemuka, Muhammad Baqir Ash-Shadr melambangkan kebangkitan intelektual yang berlangsung di Najaf antara 1950-1980. Ciri lain yang mencolok dari kebangkitan itu adalah dimensi politiknya, dan saling pengaruh antara apa yang terjadi di lorong gelap dan sekolah tinggi berdebu Najaf, dan Timur-Tengah pada umumnya. Peristiwa pengeksekusian Shadr bersama saudara perempuannya yang bernama Bint Al-Huda pada 8 April 1980, barangkali ini merupakan titik puncak tantangan terhadap Islam di Irak. Dengan meninggalnya Shadr, Irak kehilangan aktivis Islamnya yang paling penting.</p>
<p>Tapi ketenaran Shadr justru setelah ia dihukum gantung oleh pemerintahan Irak. Reputasi Shadr semenjak itu diakui di berbagai kalangan masyarakat. Namanya telah melintasi Mediterania, ke Eropa dan Amerika Serikat. Pada 1981, Hanna Batatu, dalam sebuah artikel di Middle East Journal di Washington, menunjukkan pada orang-orang pentingnya Shadr bagi gerakan bawah tanah Syi&#8217;ah di Irak. Pada 1984, Istishaduna diterjemahkan sebagian ke dalam bahasa Jerman, disertai mukadimah panjang mengenal alim Syi&#8217;ah ini oleh seorang orientalis muda Jerman. Jadi tidak mungkin lagi mengabaikan nilai penting Muhammad Baqir Ash-Shadr dalam kebangkitan berbagai gerakan politk Islam, di Irak, di dunia Syi&#8217;ah dan di dunia Muslim pada umumnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2005/03/08/muhammad-baqir-ash-shadr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahmud Syaltut</title>
		<link>http://abatasya.net/2005/03/08/mahmud-syaltut/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2005/03/08/mahmud-syaltut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2005 01:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Ungkapan syeikh Mahmud Syaltut berikut ini memberikan pelajaran penting pada kita, khususnya dalam relasi antaragama, bahwa pluralisme adalah suatu kemestian. Betapa pun, pemahaman Syaltut yang demikian memiliki dasar dan landasan kuat dari apa yang ia ketahui dari agamanya. Sosoknya sebagai tokoh dan ulama Islam moderat yang tersohor dalam percaturan dunia Islam, merupakan kredibilitas intelektualitasnya. Pemahaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Ungkapan syeikh Mahmud Syaltut berikut ini memberikan pelajaran penting pada kita, khususnya dalam relasi antaragama, bahwa pluralisme adalah suatu kemestian. Betapa pun, pemahaman Syaltut yang demikian memiliki dasar dan landasan kuat dari apa yang ia ketahui dari agamanya.</p>
<p>Sosoknya sebagai tokoh dan ulama Islam moderat yang tersohor dalam percaturan dunia Islam, merupakan kredibilitas intelektualitasnya. Pemahaman dan pemikirannya tak lepas dari lingkungan yang membesarkannya.</p>
<p><span id="more-41"></span>Dilahirkan pada tahun 1893 di Desa Munyah, Bani Mansur Provinsi Buhairoh, Mesir, sejak kecil Syaltut memperlihatkan kesungguhan dan keuletan dalam ber-tafaquh fid diin (belajar Islam).</p>
<p>Keluarganya yang haus ilmu pengetahuan dan taat beragama, serta hormat pada ulama, berperan besar dalam membentuk kepribadiannya.</p>
<p>Pendidikan Syaltut dimulai di kampung halamannya dengan menghafal Alquran pada seorang ulama setempat. Baru pada tahun 1906, ketika usianya menginjak 13 tahun, ia mulai pendidikan formalnya dengan masuk Ma&#8217;had Al Iskandariah.</p>
<p>Studinya ini dirampungkan setelah ia mendapat Syahadah &#8216;Alamiyah (setingkat ijazah S-1) pada tahun 1918. Pada 1919, Syaltut mengajar di almamaternya. Bersamaan itu pula terjadi gerakan revolusi rakyat Mesir melawan kolonial Inggris. Ia ikut berjuang melalui ketajaman pena dan kepiawaian lisannya.</p>
<p>Dari almamaternya Syaltut lalu pindah ke Al Azhar. Selain sebagai pengajar, di institusi pendidikan tertua di dunia ini, ia menjabat beberapa jabatan penting, mulai dari penilik pada sekolah-sekolah agama, wakil dekan Fakultas Syariah, pangawas umum kantor lembaga penelitian dan kebudayaan Islam Al Azhar, wakil syeikh Azhar, sampai akhirnya pada tanggal 13 Oktober 1958 diangkat menjadi syeikh Azhar (pimpinan tertinggi Al-Azhar).</p>
<p>Syeikh Mahmud Syaltut merupakan sosok yang selalu menggeluti dunianya dengan aktivitas keagamaan, ilmu pengetahuan, kemasyarakatan dan juga perjuangan politik. Tidak mengherankan ketika masih muda, ia sudah dikenal dan dianggap sebagai seorang ahli fikih besar, pembaharu masyarakat, penulis yang hebat, seorang khatib yang hebat dengan penyampaian bahasa yang mudah dipahami, argumentasi yang rasional dan pemikiran yang bijak.</p>
<p>Hal ini dibuktikan ketika pada tahun 1937, Syaltut diutus Majelis Tertinggi Al Azhar untuk mengikuti muktamar tentang Alqanun al Dauli al Muqaran (Perbandingan Hukum Internasional) di Lahay, Belanda. Dalam muktamar itu, ia sempat mempresentasikan pemikirannya, tentang relevansi syariah Islam yang mampu berdinamika dengan perkembangan zaman. Sontak, pandangannya ini mendapat sambutan peserta.</p>
<p>Sepanjang hayatnya, Syaltut senantiasa mengarahkan hidupnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan syiar Islam. Darinya terpancar sosok seorang sufi yang saleh, dan cerdik yang bijak. Ia bagaikan angin topan yang tak pernah berhenti memperjuangkan kebenaran sampai dirasakan nilai-nilai keadilan oleh semua manusia.</p>
<p>Sebagai seorang faqih, semangat berijtihad dan jihad selalu menyatu dalam dirinya. Dalam mengistinbatkan sebuah hukum, ia selalu mengondisikan dengan perkembangan yang terjadi, dan mengambill serta memilih pendapat yang dianggap mempunyai nilai relevansi dengan masalah yang ada. Karena itu apa yang dilontarkannya tidak terbatas pada satu madzhab saja, tetapi fatwa yang dikeluarkannya senantiasa sejalan dengan nilai-nilai syariah Islam yang fleksibel dan universal.</p>
<p><strong>Pemikiran dan karyanya</strong><br />
Dalam percaturan intelektual, Syaltut dikenal sebagai tokoh dan cendekiawan yang memiliki tipologi seorang mujtahid dan mujaddid dengan pemikiran Islam moderat dan fleksibel. Itu bisa dilihat terutama dalam pandangannya mengenai relasi antaragama, hukum Islam, pluralisme, dan ragam aliran pemikiran dalam Islam.</p>
<p>Dalam masalah kebebasan beragama misalnya, Syaltut melihat bahwa hal itu sesuatu yang mesti dan dijamin dalam Islam. Manusia, katanya, mempunyai kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Dengan kemampuan akal dan amal yang diperbuatnya, derajat manusia akan makin dekat dengan sang Khalik. Manusia diciptakan Tuhan bebas untuk melakukan apa yang diingininya.</p>
<p>Dalam mengkaji suatu masalah, ia selalu menggunakan pendekatan naql dan aql. Hal demikian lalu ia konvergensikan dengan penajaman pandangannya, dan menimbang apa yang dikemukakan oleh ulama-ulama sebelumnya untuk kemudian ia pertimbangkan menjadi suatu keputusan hukum. Konsistensi dalam berpendapat selalu dipegang erat. Karena itu, tak jarang Syaltut berbeda pendapat dengan ulama lain.</p>
<p>Fatwanya yang dianggap paling kontroversial adalah tentang halalnya menaruh harta di bank dan diperbolehkannya pembatasan keturunan (KB). Setidaknya, hal itu dapat ditemui dalam kitab &#8220;Al Fatawa&#8221;.</p>
<p>Dalam upaya kontekstualisasi Islam, Syaltut mencoba merumuskan suatu konsep yang memudahkan umat Islam. Formulasi itu secara ringkas dapat dijelaskan dalam pandangannya, bahwa Islam sebagai sebuah ajaran tidak pernah tertinggal oleh dinamika zaman dan karenanya akan selalu kontekstual dengan masa. Baginya, Islam adalah syariah dan akidah yang karena keduanya manusia akan menemukan kedamaian dan kesejahteraan hidup.</p>
<p>Untuk itulah, tegasnya, ajaran Islam harus selalu dikontekstualkan dengan pemahaman-pemahaman yang tercerahkan. &#8220;Islam memberikan tempat yang luas sekali kepada kita untuk menerjemahkannya bukan dalam konteks ideologis semata, tetapi juga sebuah nilai hidup. Islam memberikan kebebasan berpikir manusia untuk memahami agamanya sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya,&#8221; ujarnya dalam Islam Aqidah wa Syariah.</p>
<p>Dalam kaitan pemikiran keyakinan, Syaltut melihat bahwa substansi akidah Islam adalah keimanan, baik iman kepada adanya pencipta maupun terhadap apa yang akan diciptakan oleh sang Pencipta. Kalimat syahadat, paparnya, adalah bentuk perjanjian keimanan manusia dan pernyataan ideologis manusia kepada Tuhannya yang satu dan Muhammad sebagai utusanNya. Dengan syahadat ini, akan membuka hati dan pikiran manusia untuk memahami Islam lebih dalam dan luas.</p>
<p>Untuk mencari kebenaran Tuhan, menurut Syaltut, manusia harus menyadari bahwa ada sesuatu yang harus diketahuinya hanya sebatas untuk tahu, dan ada sesuatu yang diketahuinya dan memang harus diamalkannya. Syaltut menjelaskan, untuk memperoleh kebenaran itu manusia harus melalui pendekatan rasional dan irasional.</p>
<p>Syaltut menegaskan, walaupun banyak terjadi perbedaan pendapat dalam memahami akidah, namun ada tiga hal yang harus dibatasi dalam upaya menyikapi perbedaan itu. Pertama, bahwa dalam memahami akidah dan proses pencarian kebenaran Tuhan itu, kita harus memakai dalil yang qath&#8217;i.</p>
<p>Kedua, pemahaman akidah yang berangkat dari dalil yang tidak qath&#8217;i pada akhirnya menimbulkan perbedaan-perbedaan pendapat, tidaklah dapat dikatakan sebagai konklusi dari akidah yang benar, dan pendapat satu kelompok tertentu bukanlah merupakan pendapat yang paling benar dengan menafikan kebenaran kelompok lain.</p>
<p>Ketiga, apa yang terdapat dalam buku-buku tauhid tidaklah dapat disebut bahwa masalah akidah yang diwajibkan oleh Tuhan kepada kita untuk mengetahuinya telah terangkum dalam kitab tersebut. Kitab-kitab itu hanya merupakan karya-karya ilmiah yang mungkin bisa berbeda dengan apa yang terdapat dalam nash-nash syar&#8217;i, dan karena itu, merupakan lapangan ijtihad para ulama.</p>
<p>Dalam kaitan ini, lanjut Syaltut, &#8220;syariah dan akidah merupakan satu sistem yang tidak dapat dipisahkan&#8221;. Akidah merupakan dasar yang mendorong manusia untuk menjalankan syariah Tuhan, dan syariah adalah refleksi panggilan hati manusia yang berakidah. Karena itu manusia yang berakidah tanpa menjalankan syariah Tuhan, atau manusia yang menjalankan syariah Tuhan tetapi tanpa memiliki akidah tidak dianggap seorang Muslim, juga tidak dihukumi Islam.</p>
<p>Berkaitan dengan perbedaan pendapat, Syaltut menilai, hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Perbedaan pendapat, jelasnya, disebabkan oleh metodologi yang berbeda pada seorang mujtahid dalam memahami nash-nash syar&#8217;i, juga cara pandang yang berbeda dalam melihat sebuah masalah, sehingga hasil ijtihadnya pun berbeda.</p>
<p>Perbedaan-perbedaan yang muncul dan akhirnya menjadi sekte-sekte ataupun aliran-aliran, menurutnya merupakan proses menyejarah. Hal demikian pun terjadi pada zaman Nabi dan para sahabat. Namun perbedaan itu pada hakikatnya memiliki sasaran yang sama, yakni upaya pribumisasi nilai Islam.</p>
<p>Selain itu, karena antara satu madzhab dengan madzhab lainnya dalam memahami nash-nash syar&#8217;i, khususnya kalangan Sunni dan Syiah berbeda pandangan, Syaltut melontarkan gagasan jalan tengah yang dikenal sebagai &#8220;Taqrib al Madzahib&#8221;, (rekonsiliasi antar-madzhab). Artinya, kita berusaha mempersatukan visi dan persepsi pemahaman keagamaan tanpa melihat simbol-simbol aliran yang kita yakini, dan dengan meminimalisir fanatisme madzhab yang selama ini membekas dalam perilaku keagamaan.</p>
<p>Gagasan ini bukan berarti kita harus menghilangkan dan menghapuskan pluralisme madzhab yang ada, atau menyatukan antara satu madzhab dengan madzhab lainnya, tetapi diarahkan untuk mengurangi sekat-sekat keagamaan yang telah menyejarah dan membersihkannya dari unsur-unsur fanatisme aliran, sehingga umat Islam bisa menyamakan barisannya, dan menghimpun kekuatannya dalam satu kekuatan besar tanpa melihat madzhab yang diyakininya.</p>
<p>Gagasannya ini kemudian ditindak-lanjuti pihak Al Azhar dan otoritas keagamaan di Iran, dengan membentuk lembaga &#8216;Rekonsiliasi Antar-Madzhab&#8217;. Hingga kini, lembaga itu masih eksis mengemban misinya. Pada tahun 2000 lalu, dalam rangka peringatan 50 tahun berdirinya lembaga tersebut, diselenggarakan konferensi selama tiga hari di Teheran, Iran tentang perdamaian dan rekonsiliasi antarmadzhab.</p>
<p>Bagaimanapun, syeikh Mahmud Syaltut, dengan gagasan-gagasannya telah mengajarkan kita bagaimana memahami Islam secara kaffah dan diamalkan dengan mudah, bukan berangkat dari pemaksaan, tetapi berangkat dari semangat kemanusiaan, ketuhanan, dan semangat ketaatan pengabdian manusia sebagai khalifah Tuhan.</p>
<p>Sikap keberagamaan manusia, baginya harus dimanifestasikan dan terpolakan dalam bentuk yang dinamis, fleksibel dan dewasa, sehingga Islam sebagai rahmatan lil &#8216;alamin dan sholih likulli zamanin wa makanin benar-benar mewarnai dalam semua tatanan kehidupan manusia.</p>
<p>Pengabdian panjang itu berakhir pada 1963, ketika sang Khalik memanggilnya untuk selamanya. Di antara karya monumentalnya adalah, Islam Aqidah wa Syariah; Tafsir Alquranul Karim, dan Fatawa Al Muashirah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2005/03/08/mahmud-syaltut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jamaluddin Al-Afghani</title>
		<link>http://abatasya.net/2005/03/08/jamaluddin-al-afghani/</link>
		<comments>http://abatasya.net/2005/03/08/jamaluddin-al-afghani/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2005 01:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abatasya.net/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Sayyid Jamaluddin Al-Afghani (1838/9-1897) merupakan salah satu tokoh yang pertama kali menyatakan kembali tradisi Muslim dengan cara yang sesuai untuk menjawab berbagai problem penting yang muncul akibat Barat semakin mengusik Timur Tengah di abad kesembilanbelas. Sebagai modernis Islam pertama, yang pengaruhnya dirasakan di beberapa negara, Afghani memicu kecenderungan menolak tradisionalisme murni dan westernisme murni. Meski [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Sayyid Jamaluddin Al-Afghani (1838/9-1897) merupakan salah satu tokoh yang pertama kali menyatakan kembali tradisi Muslim dengan cara yang sesuai untuk menjawab berbagai problem penting yang muncul akibat Barat semakin mengusik Timur Tengah di abad kesembilanbelas.</p>
<p>Sebagai modernis Islam pertama, yang pengaruhnya dirasakan di beberapa negara, Afghani memicu kecenderungan menolak tradisionalisme murni dan <em>westernisme murni</em>. Meski Afghani di kemudian hari &#8211;dan sejak meninggalnya&#8211; dikaitkan khususnya dengan pan-Islam, tulisan pan-Islamnya hanya menjadi bagian dari dasawarsa penting 1880-an. Dalam hidupnya dia mempromosikan berbagai sudut pandang yang sering bertentangan. Dan pikirannya juga memiliki afinitas dengan berbagai kecenderungan di dunia Muslim. Ini meliputi liberalisme Islam yang diserukan khususnya oleh Muhammad &#8216;Abduh, orang Mesir yang menjadi muridnya.</p>
<p><span id="more-38"></span></p>
<p>Pada masa mudanya ia dididik di Iran, dan juga di kota-kota suci Syi&#8217;ah di Irak dia piawai dalam filsafat Islam dan juga dalam Syi&#8217;ah mazhab Syaikhi, yang merupakan ragam Syi&#8217;ah yang sangat filosofis pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas.</p>
<p>Tak seperti dunia Arab dan Turki, di mana kebanyakan filsafat yang mendapat inspirasinya dari Yunani selama berabad-abad tidak diajarkan karena dianggap menyimpang dari Islam, di Iran tradisi filsafat terus berlangsung. Buku-buku karya Ibn Sina dan di kemudian hari karya filosof Iran diajarkan di sekolah keagamaan.</p>
<p>Ketika Afghani ke Istanbul, pada tahun 1869-70, dia mengemukakan gagasan yang bersal dari filosof Islam. Dan ketika ke Mesir pada 1870-an, dia mengajar murid-murid mudanya terutama tentang filosof-filosof Iran ini.</p>
<p>Perjalanan yang panjang dalam hidup Afghani dilalui dengan berdakwah di banyak negara. Pada usia yang masih muda, sekitar 20 tahun, Afghani sudah pergi ke India dan berjuang untuk mengusir pemerintahan Ingeris dari bumi Muslim di India. Setelah tinggal di India, Afghani pergi haji ke Makkah, lalu ke kota-kota suci Syi&#8217;ah, dan kemudian ke Afghanistan lewat Iran. Perjuangannya yang anti Inggeris ini menyebabkan Afghani harus keluar dari Afghanistan pada Desember 1868, karena jatuhnya A&#8217;zham Khan dan naik tahtanya Shir&#8217;Ali yang pro Inggris. Kemudian dia ke Bombai, Kairo, lalu ke Istanbul pada 1869.</p>
<p>Pada 1870, Afghani diangkat menjadi menjadi Dewan Pendidikan &#8216;Utsmaniah resmi yang reformis. Karena ikatannya dengan berbagai ahli pendidikan terkemuka, dia diundang untuk menyampaikan kuliah umum. Namun kuliah umum ini menimbulkan reaksi yang keras dari para ulama, karena dianggap menyimpang dari agama. Akibatnya Afghani diusir dari Istanbul.</p>
<p>Setelah itu Afghani pergi ke Kairo. Di Kairo ini mendirikan Koran yang membahas isu-isu politik. Seiring dengan perubahan kekuasaan di Mesir, di bawah Pemerintahan yang Pro Inggeris, Taufiq. Afghani akhirnya diusir dari Mesir karena sikapnya yang anti Inggeris. Kemudian Afghani pergi ke Hyderabad di India Selatan. Dari India Afghani ke London, dan kemudian pada 1883 ke Paris. Di Paris Afghani bersama dengan Muhammad &#8216;Abduh, mereka menerbitkan koran berbahasa Arab, Al-&#8217;Urwah Al-Wutaqa yang mendapat subsidi dari para pengagum. Sebelum meninggal pada tahun 1987 di Iran, Afghani sempat juga pergi ke Rusia, Eropa dan Irak.</p>
<p>Afghani merupakan figur besar dalam dunia Muslim. Penekanannya bahwa Islam merupakan kekuatan yang sangat penting untuk menangkal Barat dan untuk meningkatkan solidaritas kaum Muslim, seruannya agar ada pembaruan dan perubahan di dalam sistem politik despotis yang berbendera Islam, serta serangannya terhadap mereka yang memihak imperialisme Barat atau yang memecah-belah umat Muslim, semuanya merupakan tema-tema yang diperjuangkannya.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>Jamaludin al afghani</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.359 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abatasya.net/2005/03/08/jamaluddin-al-afghani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
